Spilled Ink, Writings
Leave a Comment

Candu Depresi

Aku bukan manusia cenderung membungkus butir-butir bahagia yang berpaut setiap laluan saat, untuk dikubur bersama hembusan-hembusan khianat…

Biar aku bukan Tuhan, tak bisa sentiasa memegang waktu
akan ku coba untuk selalu menjaga hatimu
kerna hatiku robek mendengar isak tangis mu yang membelah gelap malam
melihat kau mengiyakan pengabdian depresi, mengungkap kenangan di masa silam

Kau setengah mati membungkam perasaan
dibaptis berulangkali dengan rintik-rintik depresi
kerna itu air mata mu mengalir tanpa alasan

Kau dicengkam, dihukum dengan nasihat-nasihat laknat,
“Selagi ada Tuhan, selagi itu kau punya harapan,”
walhal mereka tak pernah mengerti bencana keintiman depresi
lantas sengsara mu dipusingkan artinya, kononnya cuma nuansa khayalan
sedangkan kau cuma mengharapkan pelangi
atau embun-embun anugerah
untuk membaja hatimu yang telah lama mati

Tapi aku kan ada di sini, bersama berusaha melawan pikiran burukmu
bersama mencakar jalan keluar dari loteng rahsiamu
kerna aku tau, kau cuma manusia rindu meronta
mencari-cari obat untuk candu depresi mu.

Advertisements
This entry was posted in: Spilled Ink, Writings

by

HELLO, ANA JONESSY is a travel, festival and lifestyle blog by Ana Jonessy, a wanderlusting Sabahan in love with all that Southeast Asia and the world have to offer. I want to be engulfed by the beauty of the wilderness and magic and kindness.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s