All posts filed under: Spilled Ink

Surat Cinta, 160117

Sepertinya ada yg tersisa dari pertemuan kita… yang sejujurnya membuat aku semakin sadar kalau aku semakin hanyut dalam segala hal tentang mu; betapa aku ingin menjadi alasan untuk senyum dan lena tidur mu. Tapi… memangnya ‘kau’ tu siapa? ‘Kau’ yang tidak pernah lelah menyembuh aku yang sering saja luka, atau ‘kau’ yang mengajarku bahwa cinta adalah tentang menerima segala yang tidak pernah ada?

Candu Depresi

Aku bukan manusia cenderung membungkus butir-butir bahagia yang berpaut setiap laluan saat, untuk dikubur bersama hembusan-hembusan khianat… Biar aku bukan Tuhan, tak bisa sentiasa memegang waktu akan ku coba untuk selalu menjaga hatimu kerna hatiku robek mendengar isak tangis mu yang membelah gelap malam melihat kau mengiyakan pengabdian depresi, mengungkap kenangan di masa silam Kau setengah mati membungkam perasaan dibaptis berulangkali dengan rintik-rintik depresi kerna itu air mata mu mengalir tanpa alasan Kau dicengkam, dihukum dengan nasihat-nasihat laknat, “Selagi ada Tuhan, selagi itu kau punya harapan,” walhal mereka tak pernah mengerti bencana keintiman depresi lantas sengsara mu dipusingkan artinya, kononnya cuma nuansa khayalan sedangkan kau cuma mengharapkan pelangi atau embun-embun anugerah untuk membaja hatimu yang telah lama mati Tapi aku kan ada di sini, bersama berusaha melawan pikiran burukmu bersama mencakar jalan keluar dari loteng rahsiamu kerna aku tau, kau cuma manusia rindu meronta mencari-cari obat untuk candu depresi mu.